relasiparadigma

NdUqSgC0u4XiOGoyhDMuihfjvvjUWCiy2cvpJOO3

Kilas Balik Sejarah Bus Fenomenal Masyarakat Tapanuli Bagian Selatan: SIBUALBUALI 1970


Bus Sibualbuali 1970an (foto:panorama.com)
Jauh sebelum Indonesia merdeka, di Tapanuli Selatan telah berdiri sebuah  perusahaan angkutan (bus) yang dinamai Fa Old (Firma Oto Dinas Pengangkutan). Sibualbuali (nama gunung di Sipirok). Perusahaan bus ini didirikan secara resmi oleh Sutan Pangurabaan Pane di Sipirok pada tanggal 1 Januari 1937. Namun sebelumnya beliau adalah pengusaha hasil-hasil bumi yang handal yang tidak hanya beroperasi di Sipirok/Padangsidimpuan tetapi juga di Kotanopan/Muara Sipongi. Uniknya, latar belakang Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang guru dan sastrawan lokal di Tapanuli Selatan yang dikemudian hari beliau lebih dikenal sebagai ayah dari tokoh-tokoh terkenal berikut: Sanusi Pane, Armijn Pane dan Lafran Pane.
Kota Sipirok 1937 (Foto:KITLV,NL)
Bus Sibualbuali menjadi primadona bus di Sumatera Utara waktu itu, di masa-masa awal lahirnya bus jarak jauh (long distance bus) karena moda transportasi ke daerah Tapanuli Selatan hanya satu-satunya dengan jalan darat. Kota Sipirok/Padangsidimpuan yang berada di pedalaman Sumatra (utara) yang jaraknya sangat jauh dengan kota-kota besar seperti Medan, Padang dan Pekanbaru (rata-rata 12 jam pada masa kini).


Berbeda dengan di daerah lain yang moda trasnportasinya sudah jauh berkembang apalagi pada moda transportasi laut dan kereta api. Hasil bumi yang melimpah di masa lalu (utamanya kopi) menjadi pemicu dan yang menjadi sumber biaya pendirian usaha-usaha jasa angkutan bus di Tapanuli Selatan. Disamping itu, masyarakat Tapanuli Selatan yang sudah lama mengecap pendidikan menumbuhkan minat para warga untuk mengarungi daerah-daerah lain yang lebih jauh. Tokoh penting untuk mengembangkan bus lokal ini menjadi bus bertaraf nasional pada awal 1950 adalah Kario Siregar, yang waktu itu bertindak sebagai Direktur Utama Fa Sibualbuali (Kario Siregar adalah ayah dari mantan Gubernur Sumatra Utara, Radja Inal Siregar).   

Penampilan bus Sibualbuali pada waktu itu sesungguhnya sangat bersahaja (lihat videonya, penampilan bus tahun 1970an). Desain kabin bus  hanya berupa konstruksi kotak buatan ‘karoseri’ Sipirok, dengan jendela kiri kanan, penutup jendela dari kanvas tebal warna coklat tua. Namun demikian, mesin dan chasis yang digunakan bis ini nomor wahid  buatan Amerika yang di produksi oleh General Motor Company (GMC). Konon mesin GMC ini  terkenal sangat 'bandel' untuk medan yang sulit sekalipun. Dengan ruang jelajah yang sangat berat dan berbahaya apalagi setir bus yang belum dilengkapi powersteering sudah tentu sopir yang dibutuhkan adalah orang yang berani dan handal baik dalam menjalankan bus maupun memperbaikinya jika terjadi kerusakan selama perjalanan khususnya pada mesin. Tidak itu juga instrumen klakson bus sibualbuali menjadi ciri khas dari bus satu ini pada jamannya.

Terminal bus Padangsidimpuan 1936-1939 (foto: KITLV.NL)
Pada awal pendiriannya armada bus Sibualbuali melayani angkutan penumpang dan barang dengan tujuan jarak pendek ke beberapa tempat di wilayah selatan Sumatera Utara seperti Muara Sipongi, Natal, Sibolga dan Tarutung. Untuk tujuan jarak jauh bus Sibualbuali dengan tujuan utama Pematang Siantar dan Kota Medan dengan pool bus di Padangsidimpuan. Besar kemungkinan peran bus Sibualbuali ini sangat penting masa itu dalam melayani masyarakat Tapanuli Selatan bermigrasi ke Tanah Deli (Medan).

Terminal bus Padangsidimpuan, 1970an
Sukses armada bus Sibualbuali setelah merdeka di seputar Sumatera Utara, Sibualbuali memperpanjang rutenya menuju Air Bangis, Bukit Tinggi dan Padang. Kemudian disusul dengan rute untuk Muara Bungo, Sungai Penuh dan Jambi yang selanjutnya hingga ke Palembang. Inilah salah satu bentuk adventure bus Sibualbuali di pedalaman Pulau Sumatera.yang mampu ‘menerabas’ jalan-jalan perintis yang sempit, berbatu, berlumpur dan jurang yang dalam di sisi-sisi jalan. Sukses Sibualbuali akhirnya sampai ke Tanjung Karang/Pelabuhan Panjang yang menobatkan dirinya sebagai pionir bus jarak jauh yang mampu mengarungi jalan-jalan di Sumatera dengan medan yang masih penuh hutan belantara.  

Terminas bus Padangsidimpuan 1960-1970 
Sekitar tahun 1972, penulis pernah memiliki pengalaman khusus dengan bis Sibualbuali.  Umur penulis saat itu sekitar 7 tahun. Pada tahun itu penulis dan keluarga mengantarkan dan melepas Tulang (Paman)   yang akan berangkat ke Jambi melanjutkan sekolah dengan menumpang bis Sibuabuali. Bus yang di tumpanginya saat itu persis seperti yang tertera pada gambar di atas. Dibutuhkan waktu seminggu untuk sampai ke Jambi pada masa itu.  Tidak itu juga para pengemudi bus paham betul bahwa mereka akan melintasi medan jalan yang sangat berat. Karena itu, bus  dilengkapi dengan alat-alat seperti; slink, kayu-kayu balok, sekop, pacul, jerigen minyak, ban serap lebih dari satu, serta alat bantu lainnya. Alat-alat tersebut  ditempatkan di bagian belakang bus agar mudah diambil jika saatnya di butuhkan.

Susunan pengurus pada Akte pendirian Bus Sibualbuali adalah sebagai berikut :
  • Direktur: Sutan Pangurabaan Pane
  • Sekretaris : Sutan Oloan Hutagalung
  • Komisaris : Muda Siregar
  • Bendahara : Barita Raja Siregar
Sampai dengan tahun 1941 perusahaan Sibualbuali memiliki jumlah kendaraan sebanyak 136 buah.

Lanjut Part II

Sumber Referensi: Akhir Matua Harahap
Related Posts

Related Posts

7 commenti

  1. kenapa sih kak edo ini suka bahas sejarah dan hal yg udah lama bgt terjadi ini? ternyata sebelum Indonesia merdeka di tahun 1937 udh ada transportasi gitu yaaa di sumut haha

    RispondiElimina
    Risposte
    1. Makasih sebelumnya komen kak :) alasan kenapa saya suka bahas sejarah di blog saya soalnya saya cinta sama budaya saya dan bnyak belum diketaui org bawasanya titik sejarah indonesia salah satunya berada di provinsi sumatera utara khususnya tanah org tapanuli bagian selatan. dikutip dari perkataan presiden pertama kita soekarno "Jika Kamu ingin tau tentang jiwa dan semangat ke indonesia-an, jangan datang ke jakarta atau surabaya atau bandung. pergilah ke daerah2, pergilah le tapanuli selatan, ke mandailing, pergilah ke banyuwangi, atau ke makasar dan pelosok lainnya (1964) dari penyataan bapak soekarno ini lah jadi timbul semangat saya mengumpulkan cerita2 sejarah di daerah saya kak. termaksud trasportasi sibualbuali, punya sejarah tersendiri buat dikupas apa lagi pendirinya adalah satu marga saya pane.😁

      Elimina
  2. Akhirnya bang keluar juga sejarah tentang Bus Sibual-buali. Kalo liat poto2nya busnya ini keren ya..
    Dan baru tau ada hubungan dengan mantan gubernur Sumut raja Inal Siregar.

    RispondiElimina
    Risposte
    1. iya kak terlalu bnyak sejarah trasportasi sibualbuli yg kita gk tau sebenarnya perlu kita lestarikan jgn sampai jdi tinggal nama aja :(

      Elimina
  3. Jadi tau bentuk bus di Tapanuli Selatan jaman dulu karena tulisan bg edo ini. Kebayang ya di daerah dulu sangat minim transportasi. Sakarang yang terkenal juga dari Tapsel yaitu ALS yang akan berjejer di pinggir jalan kampungnya suami daerah Muara Botung tiap lebaran.

    RispondiElimina
  4. Wow di tahun 1970-an saja Sipirok udah ramai yaa Bg Edo... memang terkenal ini bus Sibual-buali di Tapanuli Selatan. Pantaslah tokoh-tokoh Mandailing sampai ke mana-mana di pelosok negeri ya, pasti dengan perantaraan bus fenomenal ini.

    RispondiElimina
  5. Nambah informasi nih, ternyata pada tahun 1936-1939 sudah ada terminal padangsidempuan dan rame ya bang.

    RispondiElimina