Breaking News

Ramadhan Dan Momen Politik Makin Hari Makin Memanas

Medan punya cerita PEOPLE POWER BUKAN MAKAR. Sumber: Andi Boga

Bulan Ramadhan selalu hadir setiap tahun, yang dimana momen ramadhan adalah momen dimana umat Muslim beribadah secara totalitas untuk memambah keimanan dalam diri. Ramadhan mewajibkan umat Muslim untuk berpuasa, puasa dari makan dan minum, dan yang terpenting adalah puasa dari hawa nafsu, amarah, dan sifat tercela lainnya.

Menahan diri dari makan dan minum mungkin menjadi hal yang mudah, tapi tidak dengan hawa nafsu. Hawa nafsu manusia dapat membuat lupa diri dan sering out of control. Kenapa demikian? Karena hawa nafsu itu sendiri adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri manusia, berkaitan dengan pemikiran dan fantasi seseorang. Hawa nafsu juga merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut.

Begitu juga dengan ramadhan kali ini, manusia telah dikendalikan oleh hawa nafsunya untuk “berperang”, dalam artian berperang kekuasaan. Tanggal 17 April 2019 kemarin menjadi pesta demokrasi rakyat Indonesia, memilih Presiden dan Wakil Presiden dan juga calon legisltaif. Pemilu memang sudah berakhir, tapi perseteruannya masih tak kunjung usai sampai sekarang. Momen ramadhan yang seharusnya menguatkan persaudaraan tetapi berubah menjadi perpecahan karena berbeda pilihan.

Kita ketahui kedua kubu pendukung calon Presiden sama-sama mengklaim kemenangan mereka, masing-masing tak mau kalah, sehingga bulan ramadhan kali ini dipenuhi dengan “adu jotos”. Salah satu pendukung mengatakan bahwa pasangan calon (paslon) presiden lain berbuat curang, mereka buktikan dengan memberikan laporan bukti kecurangan sebanyak 73 ribu lebih. Sementara di kubu seberang tidak mau membenarkan berita itu, dengan dalih itu hanya bukti yang dibuat-buat.

Semakin hari semakin panas, kubu paslon 01 dan 02 tidak mau kalah, makin saling menyerang, baik dari serangan media sosial atau serangan secara langsung. Kubu 02 menggunakan People Power untuk menyakatakan atau mendeklarasikan kemenangan mereka, dengan cara bertamu ke kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). People Power ini mereka gaungkan melalui media sosial untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia, salah satunya kota yang melaksanakan ini adalah kota Medan.


Di kota Medan, aksi yang dilakukan terbilang damai, tidak ada aksi bakar ban atau hal-hal yang tidak sesuai norma. Mereka menyuarakan aspirasi mereka agar kecurangan dapat dituntaskan. Mereka mau menerima kekalahan asalkan dengan cara yang jujur dan juga adil. Tapi, ada aksi pasti ada reaksi, kubu 01 mengatakan bahwa people power ini adalah bentuk daripada makar, dapat merusak dan membahayakan. Mereka mengatakan bahwa people power ini adalah aksi yang melanggar Undang-undang dan tidak sesuai dengan etika. 

Karena kedua kubu tidak mau kalah, esensi ramadhan kali ini sepertinya menjadi Ramadhan Politik, setiap hari yang trending dalam media sosial berbicara mengenai politik, dan tidak aka nada habisnya sampai pengumuman resmi oleh KPU tanggal 22 Mei 2019 nanti. Di mana Indonesia yang dulu damai dan akur? Jika ramadhan saja yang seharusnya mengeratkan menjadi bercerai berai, bagaimana dengan bulan yang lain.

Jika memang ada kecurangan, pihak yang berwenang mengatasi masalah ini harus sigap membuktikan masalah kecurangan. Jikalau memang terbukti tidak ada kecurangan, pihak lain harus bersikap fair, tapi jika memang terdapat kecurangan, segera harus dituntaskan agar tidak ada yang merasa dirugikan. Mari tetap kita jaga kerukunan kita, pemilihan Presiden hanya sekali dalam lima tahun, tapi persaudaraan kita harus dijaga sampai akhir hayat, jangan momen politik merusak Ramadhan kita, jadikan Ramadhan kali ini menguatkan persaudaraan dan ibadah, bukan menjadi penyebab kehancuran.    

Penulis: Prima Auliansyah Srg                                       Editor: Relasiparadigmacom









6 komentar:

  1. Tapi sedih liat berita yang di jakarta, ada yang sengaja bagi bukaan isinya beraCun sehingga belasan dilarikan ke rumah sakit

    BalasHapus
  2. Miris ya bang beritanya. Tp emang balik lg smuanya dr diri sndiri sih. Kadang yg berlebihan itu tidak baik. Publik ini jg udh bosen dgn politik drama kek gini.

    BalasHapus
  3. Terus terang jadi ilfil ngeliat banyak pihak di situasi sekarang. Orang orang yg tadinya diidolakan seketika melakukan hal hal memuakkan.. Semuanya jadi carut marut.. Kayak gak merasa kematian itu dekat...

    BalasHapus
  4. Berat ini pembahasan.
    aksi damai aja dibilang melanggar norma , etika , dan sebagainya...

    gimana klo ntar ditunjukkin gimana sebenernya yang melanggar norma dan etika ini.. .siap gak yang nuduh itu menghadapinya.

    disitu kadang saya merasa galau

    BalasHapus
  5. Miris sih liat berita sekarang. Siapapun yg terpilih itu udah ada Tuhan yang ngatur. Kalopun ada dugaan kecurangan dan salah satu pendukung tidak menerima hasil yang ada, silakan ajukan keberatan ke MK dengan membawa bukti2 yang valid. Nggak perlu lah saling berantem di medsos atau dunia nyata gara2 isu yang belum terbukti benar. Ada cara yang lebih gentle.

    BalasHapus
  6. Duh berat kakak, berharap hasil yang terbaik saja, mudah2an keadaan ini kembali membaik, rasa persaudaan tetap diutamakan, yg zhalim biarlah Allah yang menghukumnya..

    BalasHapus