Breaking News

Dompet Dhuafa Sumut Mengadakan Kegiatan Trauma Healing Untuk Warga Korban di Mandailing Natal

 Tim Psychological First Aid (PFA) Cadangan Dompet Dhuafa Sumut bersama anak-anak korban yang selamat di posko pengungsian (Sumber: Edorivalda Pane)

Mandailing Natal, 2018 - Bencana banjir bandang di Desa Muara Saladi Kec. Ulu Pungkut, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada Jumat (12/10) lalu, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Rasa trauma pun berkecamuk menjadi satu, hingga menyebabkan dampak psikologis begitu berat yang kini tidak hanya dirasakan warga yang mengungsi, namun juga sejumlah warga yang tinggal berdekatan di lokasi bencana.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim relawan Dompet Dhuafa Sumut Toras Adytia Simanjuntak selaku Ketua tim Dompet Dhuafa Volunteer Sumut Senin, 22 Oktober 2018, berangkat kembali menuju Madina bersama rekan-rekan tim Psychological First Aid (PFA) Dompet Dhuafa Sumut dan Koordinator wilayah Tabagsel Edorivalda Pane, yang sebelumnya sudah perna datang kemarin dua minggu yang lalu (15/10) untuk mendata jumlah korban disana dan keperluan apa aja yang dibutuhkan saat ini buat para korban. donasi ini pun dari sumbangan infaq dari donatur yang disalurkan langsung oleh tim Dompet Dhuafa Waspada (Sumut) buat korban bencana.

Sesampainya di posko pengungsian kurang lebih 4 jam perjalanan dari Kota Padangsidimpuan, malamnya jam 21.00 wib, tim relawan dompet dhuafa sumut memberikan tausyiah dan doa bersama warga desa Muara Saladi di posko terletak di desa Hutagodang. Dimana Ustadz Didik (Da'i Kreatif) yang khusus didatangin langsung oleh tim Dompet Dhuafa Waspada (Sumut) untuk menyampaikan tausyiah ke keluarga korban pengungsian. Dalam tausyiahnya, Ustad Didik berpesan untuk tidak terlalu lama larut dalam kesedihan dan merupakan fitrah setiap manusia akan diuji. Banjir bandang ini hanyalah salah satu ujian dari Allah agar kita lebih mendekat kepadaNya. Tuturnya!!

Ustad Didik memberikan tausyiah kepada keluarga korban - Desa Hutagodang (Sumber: Edorivalda Pane)

Keluarga korban menyimak tausyiah dari Ustad Didik - Desa Hutagodang  (Sumber: Edorivalda Pane)

Warga posko pengungsian di Desa Hutagodang - Mandailing Natal  (Sumber: Edorivalda Pane)

Kesedihan masih sangat terlihat di wajah para orang tua khususnya ibu anak-anak korban, karena rata-rata anak mereka yang menjadi korban banjir bandang merupakan anak bungsu yang sehari-harinya menemani ibunya dirumah.

Besoknya Selasa, 23 Oktober 2018 tim relawan Dompet Dhuafa Waspada (Sumut) kembali turun ke posko pengungsian Hutagodang melaksanaka dua agenda kegiatan yaitu sekolah ceria bagi anak-anak korban dan trauma healing. Sebagian warga desa Muara Saladi masih berada di posko pengungsian karena rumah mereka yang hanyut terbawa banjir dan juga disebabkan trauma yang masih mereka rasakan menyebabkan belum barani pulang kerumah masing-masing.

Proses selanjutnya adalah melibatkan warga korban dengan pola kaderisasi, mengedukasi warga korban untuk bisa mendampingi pelaksanaan program ini saat dibutuhkan di waktu selanjutnya ke dalam berbagai program healingseperti berlatih relaksasi dan mengajak mengobrol santai kiranya mengeluarkan kesedian yang dipendam mereka di bagi bersama. “Ada beberapa warga yang menangis memikirkan sanak keluarganya yang menjadi korban''.

Tim PFA memberi pendampingan ke keluarga korban di posko pengungsian Desa Hutagodang - Mandailing Natal.

Tim PFA mengajak anak-anak pengungsian bermain bersama di posko Desa Hutagodang - Mandailing Natal

Ustad Didik mengembalikan keceriaan anak-anak dengan memberi pertanyaan kuis edukasi di posko pengungsian Desa Hutagodang - Mandailing Natal 

Saat ini tim Dompet Dhuafa Waspada (Sumut) melalui tim Psychological First Aid (PFA) mencoba untuk merangkul dan mendekatkan diri terutama kepada anak-anak yang cukup rentan terhadap dampak psikologis baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Banyak di antara mereka yang harus kehilangan sahabat bermain bahkan saudara menjadi korban dari banjir bandang tersebut.

Dengan adanya kegiatan ini mengharapkan anak-anak yang selamat bisa ceria lagi tidak mengingat kejadian apa yang sudah menimpa mereka,” ucap salah satu orang tua korban pengungsi.

Sehabis seharian kegiatan sama keluarga korban pengungsian, malamnya jam 20.30 wib tim Dompet Dhuafa Waspada (Sumut) mendapat kabar mengejutkan salah satu warga kampung sebelah dilarikan ke UPT Puskesmas Hutagodang karna mau melahirkan, tim Dompet Dhuafa Waspada (Sumut) bergegas pergi meliat keadaan ibu tersebut.

Sesampainya di UPT Puskesmas Hutagodang salah satu volunteer Novita Anggraini Siregar (26 tahun) turut masuk ke kamar bersalin karna kekurangan paramedis disana membantu persalinan ibu Norma (26 tahun) yang mau melahirkan anak keduanya, sungguh perasaan yang campur aduk, dan cemas. kemudian saat pukul 21.40 wib, setelah hiruk pikuk terdengar sebentar dari kamar bersalin, muncul suara tangisan bayi, maka luruhlah sudah semua perasaan cemas dan khawatir, berganti dengan senyum dan tawa, dan kami para relawan merasa bahagia dan mendapat banyak pelajaran bisa hadir di saat sedih dan tawa mereka. 😄

Novita Anggraini Siregar relawan yang turut membantu persalinan orang tua bayi - UPT Puskesmas Hutagodang. 😂 

Kondisi bayi dalam keadaan sehat.

(Ads) Klik foto diatas 👆 Inspiring Volunteer Dompet Dhuafa Sumut - UPT Puskesmas Hutagodang (23/10)

Tidak ada komentar