![]() |
Sumber: istockphoto.com |
Senyum hangat Ibu kepala Panti Asuhan menyambut kedatangan ku untuk yang ke dua kalinya di sore hari yang mendung. Sebenarnya badan sudah sangat lelah dalam rangka mencerdaskan anak bangsa namun panggilan jiwa untuk yang satu ini juga tidak kalah penting.
“Buatkan minum untuk Kakak ini” pinta wanita berkulit putih itu kepada salah satu remaja yang melintas di depan kami. Firasat ku mengatakan gadis cantik ini adalah salah satu anak di Panti Asuhan.
“Apa kabarnya Nak?” tanya Ibu itu membuka topik obrolan kami.
“Alhamdulillah baik Bu. Izin Bu, Muti boleh tanya-tanya sedikit?” tanya ku gugup. Jujur saja kali ini Aku merasa gugup. Pengalaman ceramah di kelas tidak sama dengan meminta izin wawancara rupanya.
“Oh tentu, silahkan apa yang ingin kamu tanyakan?”
Alhamdulillah. Gayung bersambut! Bismillah Gasss!
Izin sudah di berikan tapi Aku justru bingung, bagaimana sebaiknya merangkai kalimat pertanyaan yang terdengar baik, jelas dan sopan?
Tadinya Aku ingin mengorek lebih lanjut mengenai ungkapan isi hati Bapak pemilik Panti Asuhan tempo lalu, Bapak yang tidak lain adalah suami Ibu tersebut. Ya pasutri hebat ini adalah pendiri Lembaga Kesejahteraan Sosial Panti Asuhan Amalia Attohir Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Ungkapan isi hati Bapak tempo lalu masih terngiang-ngiang di kepala ku. Sorot matanya yang tajam namun penuh makna. Mengiaskan perjuangan yang masih terus berjalan sampai detik ini. Sepotong kalimat yang menyiratkan perjuangan Panti Asuhan memperjuangkan nasib anak-anak istimewa tersebut di tengah segala keterbatasan.
“Hmm. boleh sedikit bercerita bagaimana awal mula Panti berdiri hingga bagaimana memenuhi kebutuhan anak-anak Bu?” ucapku yang akhirnya bertanya juga.
Aku harap pertanyaan ku barusan cukup jelas dan tidak berbelit-belit.
Wanita berkaca mata itu menghela nafas, pandangannya jauh menerobos aspal jalan raya yang berada persis di ujung halaman Panti Asuhan.
“Jika bercerita tentang awal mula Panti berdiri, ya panjang dan penuh perjuangan Nak.”
Sorot mata di balik bingkai kaca mata itu teduh, menyiratkan ada perjuangan yang berat di baliknya.
“Kamu tahu Panti Asuhan yang ada di dekat tugu selamat jalan dari kota Padangsidimpuan itu?”
Aku mengangguk semangat, “iya tahu Bu.”
“Dahulu itu di asuh oleh orangtua Ibu. Singkatnya setelah beberapa tahun Ibu dan Bapak memilih untuk memisahkan diri dari naungan Panti Asuhan keluarga Ibu tersebut.”
“Lalu membuka Panti baru ya Bu?” tanyaku menebak.
Ibu menggeleng, “belum. anak- anak panti justru lebih dahulu hadir daripada lembaga Panti Asuhan ini sendiri.”
Bola mataku terbelalak. Bagaimana bisa?
“Masa itu bangunan satu-satunya baru rumah ini saja. Saat itu ada banyak kasus anak-anak yang bermasalah di sekitaran Tapsel ini. Diantara mereka ada yang di taruh di Panti Asuhan keluarga Ibu tadi dan tidak sedikit yang lari kesini. Bangunan belum ada sama sekali, hanya rumah ini saja. Semuanya berkumpul meski harus bersempit-sempit. Kalau Ibu tidak salah jumlah mereka 30-50 an anak.”
Sekali lagi, bola mataku terbelalak membayangkan jumlah anak yang tidak sedikit itu harus berbagi tempat di rumah yang memang tidak kecil tapi juga tidak begitu besar.
Belum sempat Aku bertanya lebih lanjut. Sosok seorang Pria berkulit putih dengan kumis keluar dari dalam kamar.
“Pak” ucapku sembari memberi hormat.
“Eh kamu, sudah bagaimana?” tanya Bapak sembari duduk. Kami bertiga pun melanjutkan sesi waeancara santai sore hari itu.
“Teman Bapak yang mengetahui kondisi kami pada saat itu menyarankan untuk membuka Panti Asuhan saja” ucap Lelaki ramah tersebut melanjutkan obrolan.
“Bapak dan Ibu pun menyetujui usulan teman kami itu. Dengan bimbingan dari teman-teman mengenai prosedur membuka Panti Asuhan yang baik dan benar. Alhamdulillah panti pun resmi di bangun. Semua surat-surat , dokumennya sah, di akui negara dan mendapat akreditasi baik.”
Aku mengangguk pelan, ah barangkali ini sebabnya Panti Asuhan ini sering menjadi rujukan anak-anak terlantar dari Dinas Sosial setempat.
“Mengenai bantuan bagaimana Pak?” tanyaku penasaran.
Pandangan mata beliau mengawang ke hamparan halaman panti dimana anak-anak sedang bermain dengan ceria.
“Sekitar 3 atau 5 tahun yang lalu, ah Bapak lupa. Persisnya pada masa jabatan sebelum Gubernur yang sekarang. Atas usulan salah seorang teman, panti berusaha mengajukan proposal ke Dinas Sosial Provinsi. Waktu itu ada rencana ingin membangun asrama untuk putra. Seluruh dokumen dan bukti pendukung sudah di lampirkan dalam proposal tersebut. Kami bahkan mengeluarkan modal untuk proposal tersebut.”
Tatapan beliau semakin sendu kala menatap bangunan berlantai dua yang ada masih bisa terlihat dari ruangan tempat kami mengobrol.
“Berbulan-bulan menunggu tidak juga ada kabar, hati mulai resah. Bapak bahkan langsung pergi ke Provinsi untuk menanyakan nasib proposal kami tapi ya masih belum rezeki.”
Alis mata kiri ku sedikit naik, “kog bisa Pak?”
Bapak menghela nafas lalu tersenyum, “Ya kita tidak boleh Suudzan kan? Hanya kepada Allah tempat mengadu dan memohon pertolongan. Sedih, kecewa pastinya. Sebab proposal itu dibuat dengan sepenuh hati dan dilengkapi dokumen-dokumen pendukung yang di buat dengan sangat matang tapi jika Allah berkata rezeki itu bukan dari Dinas Sosial Provinsi, kita bisa bilang apa?”
Ku lirik bangunan dengan cat warna merah itu. Meski belum sempurna, bangunan itu mampu berdiri kokoh hingga saat ini.
“Masa itu kami benar-benar bingung. Sawah, kebun, bahkan emas Ibu mu sudah di jual. Rancangan bangunan sudah jadi tapi uang membangunnya tidak ada. Padahal jika uang proposal itu cair. Itu hanya mampu menutupi setengah dari biaya uang pembangunan asrama. Setengahnya lagi harus tetap panti yang fikirkan.”
Aku pun semakin penasaran. Lantas bagaimana keajaiban Tuhan membantu asrama ini dapat berdiri tanpa sentuhan tangan pemerintah?
“Berita ini sampai ke salah satu saudara Bapak di Jakarta. Alhamdulillah lewat kemurahan hati beliau. Asrama putra bisa berdiri seperti saat ini.”
Aku ikut tersenyum mendengar kisah perjuangan pembangunan asrama putra ini.
“Jadi jika bicara soal sokongan dana, ya setiap tahunnya berbeda-beda. Tidak pernah tetap. Bahkan beberapa tahun belakangan ini menurun. Setiap satu tahun sekali Panti Asuhan mendapat dana Apbd dari pemerintah tapi sejujurnya itu tidak mencukupi.”
Aku yang penasaran, memberanikan diri menanyakan nominal angka agar lebih jelas.
“Sekitar berapa lah itu Pak per tahun?” tanyaku singkat.
“Nominalnya tidak pernah jelas. Seperti tahun lalu sekitar Rp. 40.000,000. Tapi jika di bagi dengan jumlah anak di Panti ini untuk satu tahun jelas tidak cukup. Jadi setiap mendapat bantuan, uang itu pasti akan langsung habis digunakan untuk membayar hutang.”
Aku tertegun. Rp. 40.000,000 untuk satu tahun di bagi dengan jumlah anak sebanyak itu? Aku tahu persis biaya anak tidak murah. Uang sekolah, transportasi, makan? Belum lagi bayi-bayi yang di asuh pihak Panti. Harga susu dan popok yang harus terus di setok pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Hmm untuk menutupi biaya anak-anak usaha apa yang di lakukan panti Pak, donatur bagaimana?”
“Donatur tetap belum ada, paling keluarga terdekat yang mengetahui kondisi panti yang bila ada rezeki mau memberi. Belakangan Ibu dan adik-adik panti membuat kue bawang. Itulah yang di jual untuk menambah biaya kebutuhan sehari-hari.” sambung Ibu.
Aku menggeleng mendengar kondisi tersebut, “padahal setiap tahun pasti ada saja anak-anak yang diantar pihak pemerintah ke panti ya Bu?”
“Pastinya ada. Apalagi panti kita ini terkenal sebagai rujukan tempat anak-anak yang mendapat masalah. Kamu tahu kisah anak pemakan sabun yang sempat viral itu? Anak hasil hubungan inces dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka diantar kesini. Tapi untuk biaya kelangsungan hidupnya, tetap pihak panti yang harus memutar kepala. Tidak bisa mengharapkan bantuan yang sekali setahun itu. Tidak cukup.”
Bapak menoleh kearah Ibu, “apalagi pas pandemi kemarin ya Bu? Subhanallah itu masa yang sangat berat bagi panti. Bantuan pemerintah sangat menurun drastis, anak-anak panti banyak dan uang kas krisis.”
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5, awan terlihat mendung. Aku pun berinisiatif untuk pemit.
“Izin Pak, Bu Muti harus pamit karena hari semakin mendung. Terimakasih atas waktu yang di berikan. Semoga Bapak dan Ibu terus diberi kesehatan untuk berjuang menjaga senyum di wajah adik-adik Panti Asuhan ya Bu.”
“Aamin”
Lambaian tangan ku kepada pasutri hebat dan adik-adik Panti Asuhan yang gembira bermain mengantar sepeda motor ku melangkah meninggalkan Panti Asuhan dengan sejuta perjuangan di dalamnya.
***
Penulis: Mutia Nasution
Amazing...
ReplyDeleteSangat menyentuh! Semangat bwt Panti Asuhannya. Semoga selalu Allah limpahkan rezeky
ReplyDelete